Makalah Kesehatan Mental

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Dewasa ini, kesehatan mental, sudah semakin dikenal oleh masyarakat Indonesia. Pendekatan psikologis sebagai upaya mencari solusi bagi aneka ragam permasalahan yang dihadapi manusia menjadi pilihan yang bijak. Betapa tidak, karena psikologi berfungsi sebagai alat bantu untuk menciptakan kehidupan yang lebih sehat, damai, dan sejahtera. Ini berarti psikologi di butuhkan bagi siapa saja yang ingin menjalankan kehidupan sehari-hari secara sehat. Hidup sehat jasmani, rohani, emosional, intelektual, dan spiritual menjadi dambaan setiap insane yang normal. Secara kodrati manusia menunjukkan perbedaan-perbedaan individual dalam aspek fisik, social, emosional, dan intelektual. Aspek-aspek tersebut saling berinteraksi dalam membentuk perilaku manusia. Interaksi antara aspek-aspek tersebut di harapkan berada pada porsi yang seimbang sehingga dalam diri manusia terdapat keseimbangan yang sehat. Psikologi bertujuan untuk menumbuhkan dan mengembangkan kesehatan mental masyarakat. Kriteria sehat mental antara lain mampu menyesuaikan diri dan mengembangkan potensi yang dimilikinya, termasuk potensi soft skills di samping potensi hard skills yang dimilikinya. Kemampuan mengembangkan soft skills dan aplikasinya merupakan salah satu upaya untuk mencegah dan mengatasi berbagai tindak kekerasan. Di sinilah letak pentingnya pembahasan tentang prinsip-prinsip kesehatan mental. Memasuki millenium baru, pada umumnya Negara-negara di dunia menghada[pi pilihan historis. Mereka dapat terus meningkatkan kekayaan materi tatkala mengacunhkan kebutuhan manusiawi penduduknya atau sebaliknya. Keadaan pertama akan mengakibatkan meningkatnya egoisme, hilangnya kasih sayang dan bertambahnya jurang pemisah antara yang mempunyai dan kurang beruntung dan akhirnya mengarah ke anarki, penyakit mental yang kronis dan putus asa. Indonesia, secara khusus, mengalami keadaan yang serupa. Permasalahan berbagai bidang, termasuk semakin meningkatnya angka pengangguran dan kemiskinan yang kronis dapat meningkatkan penyakit mental, seperti kesulitan untuk beradaptasi, sehingga fenomena kebingungan, ketegangan kecemasan dan konflik berkembang begitu cepat, yang pada akhirnya menyebabkan orang mengembangkan pola perilaku yang menyimpang. Oleh karena itu, ilmu yang mempelajari prinsip kesehatan mental menjadi semakin penting untuk menumbuhkan dan mengembangkan kesehatan mental masyarakat, dan dapat bermanfaat mencari jalan keluar atas berbagai masalah psikologis yang ada dalam masyarakat. B. Rumusan Masalah 1. Apa saja prinsip-prinsip kesehatan mental yang berdasarkan hakekat manusia? 2. Apa saja prinsip-prinsip kesehatan mental hubungan manusia dengan lingkungan? 3. Apa saja prinsip-prinsip kesehatan mental hubungan manusia dengan Tuhan? 4. Apa Fungsi Preventif? 5. Apa Fungsi Perbaikan? 6. Apa Fungsi Pengembangan? BAB II PEMBAHASAN Prinsip-Prinsip Mental Hygiene Dalam merumuskan prinsip-prinsip mental hygiene perlu merujuk hakikat dan kriteria kesehatan mental , kondisi-kondisi yang mempengaruhi atau menentukan hubungan antara kesehatan mental atau kepribadian dengan aspek-aspek lainnya yang beragam. Prinsip-prinsip ini didasarkan pada beberapa kategori yaitu: (1) hakikat manusia sebagai organisme, (2) hubungan manusia dengan lingkungan, dan (3) hubungan manusia dengan Tuhan. Prinsip-prinsipm itu sebagai berikut. Prinsip Berdasarkan Hakikat Manusia Kesehatan mental dan penyesuaian dirin tergantung kondisi jasmani yang baik dan integritas organisasi. Untuk memelihara kesehatan mental dan penyesuaian diri, meka perilaku individu harus sesuai dengan hakikat kemanusiaannya, sebagai makhluk yang memiliki mora, intelektual, agama, emosional, dan sosial. Kesehatan mental dan penyesuaian diri dapat dicapai melalui integrasi dan kontrol diri, baik dalam cara berpikir, mengkhayal, memuaskan keinginan, mengekspresikan perasaan, dan bertingkah laku. Dalam mencapai dan memelihara kesehatn mental dan penyesuaian diri, perlu memperluas pengetahuan tentang diri sendiri (self-insight). Kesehatan mental memerlukan konsep diri : pengetahuan dan sikap terthadap kondisi fisik, dan psikis diri sendiri) secara sehat, yang meliputi: penerimaan diri, dan penghargaan terhadap status diri sendiri secara realistik atau wajar. Untuk mencapai kesehatan mental dan penyesuaian diri, maka pemahaman diri (self insight) dan penerimaan diri (self acceptance), perlu disertai dengan upaya-upaya perbaikan diri (self improvement), dan perwujudan diri. Kesetabilan mental dan penyesuaian diri yang baik dapat dicapai dengan pengembangan moral yang luhur dalam diri sendiri, seperti: sikap adil, hati-hati, keteguhan hati, semangat, integrasi pribadi, rendah hati, dan kejujuran. Pencapaian dan pemeliharaan kesehatan mental dan penyesuaian diri bergantung pada penanaman dan pengembangan kebiasaan yang baik (good habits). Kebiasaan mental dan penyesuaian diri menuntut adanya kemampuan melakukan perubahan sesuai dengan keadaan (kondisi lingkungan) dan keoribadian. Kesehatan mental dan penyesuaian diri memerlukan usaha yang terus menerus untuk mencapai kematangan berpikir, mengambil keputusan, mengekspresikan emosi, dan melakukan tindakan. Kesehatan mental dan penyesuaian diri dapat dicapai dengan belajar mengatasi konflik dan frustasi serta ketegangan-ketegangan secara efektif. Prinsup Berdasarkan Pada Hubungan Manusia Denganh Lingkungan Kesehatan mental dan penyesuaian diri tergantung pada hubungan antar pribadi yang harmonis, terutama dalam kehidupan keluarga. Penyesuaian yang baik dan ketenangan batin tergantung pada kepuasan dalam bekerja. Kesehatan mental dan penyesuaian diri dicapai dengan sikap yang realistis, termasuk penerimaan terhadap kenyataan secara sehat dan objektif. Prinsip Berdasarkan Pada Hubungan Manusia Dengan Tuhan Kesetabilan mental tercapai dengan pengembangan kesadaran terhadap sesuatu yang lebih luhur dari pada dirinya sendiri tempat ia bergantung: Allah SWT. Kesehatan mental dan ketenangan batin (equanimity) dicapai dengan kegiatan yang tetap dan teratur dalam hubungan manusia dengan tuhan, seperti melalui sholat dan berdo’a. Kartini Kartono berpendapat ada tiga prinsip pokok secara umum untuk mendapatkan kesehatan mental, yaitu: Pemenuhan kebutuhan pokok Setiap individu selalu memiliki dorongan-dorongan dan kebutuhan-kebutuhan pokok yang bersifat organis (fisik dan psikis) dan yang bersifat sosial. Kebutuhan- kebutuhan dan dorongan-dorongan itu menuntut pemuasan. Timbullah ketegangan ketegangan dalam usaha pencapaiannya. Ketegangan cenderung menurun jika kebutuhan- kebutuhan terpenuhi, dan cenderung naik/makin banyak jika mengalami frustasi atau hambatan-hambatan. Kepuasan Setiap orang menginginkan kepuasan, baik yang bersifat jasmaniah maupun yang bersifat rohaniah. Dia ingin merasa kenyang, aman, terlindung, ingin puas dalam hubungan seksnya, ingin mendapat simpati dan diakui harkatnya. Intinya ia ingin puas di segala bidang, lalu timbullah Sense of Importancy dan Sense of Mastery, (kesadaran nilai dirinya dan kesadaran penguasaan) yang memberi rasa senang, puas dan bahagia. Posisi dan status social Setiap individu selalu berusaha mencari posisi sosial dan status sosial dalam lingkungannya. Tiap manusia membutuhkan cinta kasih dan simpati. Sebab cinta kasih dan simpati menumbuhkan rasa diri aman/assurance, keberanian dan harapan-harapan di masa mendatang. Orang lalu menjadi optimis dan bergairah. Oleh karena itu individu-individu yang mengalami gangguan mental, biasanya merasa dirinya tidak aman. Mereka senantiasa dikejar-kejar dan selalu dalam kondisi ketakutan. Dia tidak mempunyai kepercayaan pada diri sendiri dan hari esok, jiwanya senantiasa bimbang dan tidak seimbang. Zakiah Darajat berpendapat kehilangan ketentraman batin itu disebabkan oleh ketidakmampuan menyesuaikan diri, kegagalan, tekanan perasaan, baik yang terjadi di rumah tangga, di kantor ataupun dalam masyarakat. Maka sebagai upayanya Zakiah Daradjat mengutip firman Allah SWT. QS. Ar-Ra’du : 28: Artinya “……ketahuilah bahwa dengan mengingat Allah itu hati menjadi tentram” (QS. Ar-Ra’du : 28) Dalam ayat di atas dinyatakan bahwa dzikir itu bisa membentuk hati manusia untuk mencapai ketentraman. Dzikir berasal dari kata dzakara artinya mengingat, memperhatikan, mengena, sambil mengambil pelajaran, mengenal atau mengerti. Biasanya perilaku dzikir diperlihatkan orang hanya dalam bentuk renungan sambil duduk berkomat-kamit. Al-Qur'an memberi petunjuk bahwa dzikir itu bukan hanya ekspresi daya ingat yang ditampilkan dengan komat-kamitnya lidah sambil duduk merenung, tetapi lebih dari itu, dzikir bersifat implementatif dalam berbagai variasi yang aktif dan kreatif. Seseorang itu dapat berusaha memelihara kesehatan mentalnya dengan menegakkan prinsip-prinsipnya dalam kehidupan, yaitu: Mempunyai self image atau gambaran dan sikap terhadap diri sendiri yang positif. Memiliki integrasi diri atau keseimbangan fungsi-fungsi jiwa dalam mengatasi problema hidup termasuk stress. Mampu mengaktualisasikan dirinya secara optimal guna berproses mencapai kematangan. Mampu bersosialisasi atau menerima kehadiran orang lain. Menemukan minat dan kepuasan atas pekerjaan yang dilakukan. Memiliki falsafah atau agama yang dapat memberikan makna dan tujuan bagi hidupnya. Pengawasan diri atau memiliki kontrol terhadap segala keinginan yang muncul. Memiliki perasaan benar dan sikap bertanggung jawab atas perbuatan-perbuatannya. Fungsi Kesehatan Mental Berdasarkan fitrahnya, manusia mendambakan atau mengingatkan suatu kehidupan yang bahagia, nyaman, dan sejahtera, baik secara pribadi maupun kelompok. Dalam upaya mencapai keinginan tersebut, mental hygiene dapat memberikan kontribusi yang sangat berarti dalam memfasilitasinya. Mengenai fungsi mrental hygiene bagi kehidupan manusia, dan ditelaah dari pengertian mental hygiene di atas, dalam pengertian tersebut terungkap bahwa mental berfungsi memelihara (preservation), mencegah (prevention), dan mengembsngksn (develepmental) kondiri mental agar tercapai mental yang sehat. Dengan demikian kesehatan mental berfungsi memelihara dan mengembangkan mental yang sehat dan mencegah terjadinya mental illness (sakit mental). Menurut kesehatan mental mempunyai tiga fungsi yaitu sebagai berikut. Preventif (pencegahan) Definisi diatas menunjukkan bahwa kesehatan mental berupaya menecegah terjadinya kesulitan atau gangguan mental dan penyesuaian diri. Fungsi ini menerapkan prinsip-prinsip yang menjamin mental yang sehat, seperti halnya physical hygiene memelihara fisik yang sehat. Istirahat yang memadai merupakan cara untuk memelihara fisik yang sehat, sementara pemuasan kebutuhan psikologis (seperti memperoleh kasih sayang dan rasa aman) merupakan prinsip yang mendasar dalam memelihara mental yang sehat. Penerapan prinsip-prinsip kesehtan mental, baik di rumah maupun di sekolah ditujukan untuk mencegah terjadinya gangguan mental. Sikap dan perlakuan orang tua yang hnagat, penuh kasih sayang dan sikap penerimaan dapat mengembangkan hubungan interpersoinal yang kondusif bagi pengembangan mental anak yang sehat, yang ditandai dengan sifat-sifat bahagia, ceria, dan mampu menyesuaika diri. Hubungan orang tua-anak yang harmonis merupakan salah satu faktor bagi berkembangnya kemampuan penyesuaian diri anak yang sehat. Amelioratif (perbaikan) Amelioratif merupakan upaya memperbaiki kepribadian dan meningkatkan kemampuan menyesuaikan diri, sehingga gejala-gejala tingkah laku dan mekanisme pertahanan diri dapat dikendalikan. Banyak faktor yang mempengaruhi perkembangan kepribadian dan kesehatan mental, maka sulit untuk menentukan pola-pola hubungan dan metode-metode latihan atau disiplin yang dapat menjamin berkembangnya mental yang sehat selama periode perkembangan anak oleh karena itu, terjadinya kekeliruan atau kegagalan dalam membantu perkembangan anak agar memiliki mental yang sehat merupakan suatu kemungkinan yang agak sulit dihindarkan. Kegagalan anak mencapai perkembangan psikologisnya yang sehat tampak pada perilakunya, seperti: suka mengigit kuku, mengemut jempol, mudah tersinggung, dan sikap permusuhan atau agresif. Untiuk menghadapi sikap dan perilaku anak seperti ini, maka perlu menggunakan prinsip mental hygiene melalui fungsi amelioratif. Suportif (pengembangan) Fungsi ini merupakan upaya untuk mengembangkan mental yang sehat atau kepribadian, sehingga seseorang mampu menghindari kesulitan-kesulitan psikologis yang mungkin dialaminya. Fungsi-fungsi mental hygiene dapat digambarkan sebagai berikut. Melalui mental hygiene (dengan memperhatikan prinsip dan fungsinya) dapat diupayakan bagaimana menata kehidupan mental (rohani), baik diri sendiri, lingkungan keluarga, sekolah, masyarakat, ataupun kehidupan berbangsa dan bernegara secara sehat, sehingga dapat mencapai suasana kehidupan yang nyaman, tentram, dan bahagia. Kegagalan mencapai kondisi mental sehat, berarti berkembangnya pribadi-pribadi yang mremiliki mental yang sakit. Mental yang sakit ditandai dengan beberapa ciri, seperti: (1) kecemasan/kegelisahan dalam menghadapi kehidupan (anxiety), (2) mudah tersinggung (prasa), sikap agresif (pemarah) atau berperilaku menyerang, dan realistik (tidak sabar atau qonaah) sehingga mudah frustasi, (5) memiliki gejala psikosomatis (sakit fisik yang disebabakan oleh gangguan psikis karena stres), dan (6) tidak beriman kepada Allah. Menurut Thorpe ciri-ciri orang yang mentalnya sakit itu adalah (1) merasa tidak bahagia, (2) merasa tidak aman atau dicekam rasa takut/khawatir, (3) tidak percaya diri, (4) kurang memahami diri, (5) kurang mendapat kebahagiaan dalam berhubungan sosial, (6) kurang memiliki kematangan emosional, (7) kepribadiaannya kurang mantap dan (7) mengalami gangguan dalam syarafnya. Apabila dalam masyarakat banyak yang memiliki pribadi seperti ini, maka akan terjadi malapetaka dalam kehidupan (baik pribadi maupun masyarakat), seperti kita alami dewasa ini. Setiap hari kita mendengar, membaca, dan bahkan menyaksikan langsung berbagai perilaku menyimpang (misbehavior), salah suai (maladjusment), atau psikopat, seperti: tawuran (antar pelajar, antar pemuda, antar preman, dan antar warga, baik kampung maupun di kota), pembunuhan, perampokan, pencurian, pembekaran, pemerkosaan, free sex, miras, narkoba, perselingkuhan, perjudian, prostitusi, dan korupsi. Mengingat pentingnya kesehatan mental bagi pencapaian kehidupan yang bahagia, maka seyogyanya mental hygiene ini menjadi perhatian bagi semua pihak untuk melaksanakannya, baik di lingkungan pendidikan (jalur sekolah mulai TK sampai Perguruan Tinggi dan jalur luar sekolah: keluarga, pesantren, majelis taklim, organisasi masyarakat, partai politik, perusahaan, dan pemerintahan. Sebagai pedoman untuk melaksanakan mental hygiene inindapat ditelaah dan dijabarkan dari isi kandungan prinsip-prinsip yang telah dipaparkan diatas. Dibawah ini dipaparkan beberapa hal yang perlu diperhatikan menyangkut mental hygiene, yaitu sebgai berikut. Kesehatan mental itu dipengaruhi oleh faktor-faktor fisik dan psikis, maka perlu diperhatikan unsur kecukupan dalam (a) bidang sandang (pakaian), pangan (nutrisi, gizi makanan yang sehat), dan papan (perumahan), dan (b) menciptakan iklim kehidupan yang dapat mengembangkan atau memfasilitasi perkembangan aspek-aspek psikis individu (kecerdasan, emosi sikap, spiritual, dan kecenderungan-kecenderungan potensial lainnya secara sehat. Kesehatan mental di pengaruhi juga oleh faktor lingkungan maka perlu diciptakan iklim kehidupan (di lingkunagan keluarga, sekolah, dan masyarakat) yang dapat mengembangkan pola hidup atau sikap-sikap sosial warga masyarakat yang terbuka, egaliter, musyawarah, empati, altruis (ta’awun), amanah, respek, kerjasama, silih asah, silih asih, dan silih asuh. Yang tidak kurang pentingnya adalah upaya memelihara atau melestarikan lingkungan alam, reboisasi hutan, memelihari daerah-daerah resapan air, penghijauan daerah-daerah pemukiman, dan membangun hutan kota. BAB III PENUTUP Kesimpulan Prinsip-prinsip kesehatan mental didasarkan pada beberapa kategori yaitu: (1) hakikat manusia sebagai organisme, (2) hubungan manusia dengan lingkungan, dan (3) hubungan manusia dengan Tuhan. Mengenai fungsi mrental hygiene bagi kehidupan manusia, dan ditelaah dari pengertian mental hygiene, dalam pengertian tersebut terungkap bahwa mental berfungsi memelihara (preservation), mencegah (prevention), dan mengembsngksn (develepmental) kondiri mental agar tercapai mental yang sehat. Saran Makalah ini masih belum sempurna, oleh karena itu dalam penyusunan makalah ini, penulis mohon kritikan dan saran dari Bapak Dosen dan para pembaca agar makalah ini menjadi lebih baik
DAFTAR PUSTAKA
 Yusuf, Syamsu LN.2008.Mental Hygiene.Bandung:Maestro. http://www.psychologymania.com/2011/03/prinsip-prinsip-kesehatan-mental.html?m=1 (diakses tanggal 06 Maret 2018, pukul 19:54)

Komentar